Jumat, 19 Maret 2010

Market Reactions to Announcements of Corporate Downsizing Actions and Implementation Strategies

Market Reactions to Announcements of Corporate Downsizing Actions and Implementation Strategies

by: Robert D. Nixon, Michael A, Hitt, Ho-Uk Lee and Euijeong


Direview Oleh:

Ruddy Tri Santoso

NIM: T4209012

Program Doktor Ilmu Ekonomi

Universitas Negeri Sebelas Maret

Surakarta

2010



A. Judul Penelitian

Ø Peneliti ingin mengamati reaksi pasar pada saat perusahaan melakukan aksi ‘downsizing’ dalam implementasi strateginya.

B. Pendahuluan

Ø Penelitian ini mengkaji tentang efek aksi ‘downsizing’ dan implementasi strateginya dalam kinerja pasar.

Ø Downsizing akan mengurangi biaya juga mengurangi sumber daya manusia untuk memperoleh benefit dari ‘lay off’.

Ø Downsizing mempunyai efek negatif dalam return dan efek pertumbuhan negatif.

Ø Penelitian ini menyarankan agar melakukan pengelolaan dengan hati-hati semua sumber daya yang bernilai untuk menghasilkan returns positif.

Ø Menurut Bowman dan Singh, 1993; Cascio, 1993, 2002; Mroczkowski dan Hanaoka, 1997, downsizing (involuntary turnover) adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh kondisi ekonomi karena perusahaan harus mengurangi biaya, dan biaya SDM adalah variabel biaya yang paling mudah dikurangi (Cascio, 2002).

Ø Ketika perusahaan mengurangi biaya melalui log off pegawai, mereka juga akan kehilangan sumber daya yang bernilai, hal tersebut merupakan kondisi yang kritis untuk ’achieving’ dan sustaining ’ keunggulan bersaing (Jackson, Hitt dan De Nisi, 2003).

Ø Pada saat layoff dilakukan harus direncanakan dengan hati-hati implementasinya agar perusahaan tetap mempunyai capability dalam bersaing.

Ø Kajian ini meneliti tentang efek pemberitaan downsizing di pasar, terutama pada outcome nya ketika perusahaan kehilangan SDM nya yang penting.

Ø Juga dilakukan kajian tentang efek dari perbedaan aksi implementasi pada downsizing dalam hubungannya dengan return pasar.

Ø Kajian terhadap outcomes seperti kinerja perusahaan, skala usaha, intensitas asset SDM, level diversifikasi dan pengurangan ruang lingkup.

Ø Hasil penelitian menunjang human capital dalam membuat inovasi nilai perusahaan pada saat melakukan downsizing.

C. Kerangka Teori

Ø Menurut De Witt, 1993; Freeman dan Cameron, 1993, downsizing adalah intentional permanent dan pengurangan sistematis dari organisasi.

Ø Downsizing mengurangi SDM perusahaan dan efeknya kepada kinerja perusahaan. SDM penting bagi kinerja karena merupakan variabel dalam keunggulan bersaing (Grant, 1996).

Ø Atas dasar hal tersebut Hitt, et.al (2001) menyatakan bahwa salah satu pertanyaan kritis dalam strategic management adalah mengapa banyak variasi dalam kinerja dengan SDM yang heterogenitas.

Ø Dalam hal ini, pengetahuan terutama tacit knowledge adalah sumber daya intangible yang biasa dinilai dan susah ditiru (karena sangat kompleks) dan merupakan fondasi dari keunggulan bersaing perusahaan (Barney, 1991; Dierick dan Cool, 1989; Penrose, 1959; Wernerfelt, 1984,1995).

Ø Menurut Spender, 1996; Zander dan Kogut, 1995; SDM tidak hanya merupakan knowledge tetapi juga mempresentasikan komunitas sosial untuk mengkreasi knowled, difusi dan utilisasi perusahaan.

Ø Knowledge inventory (Miller, 2002) merupakan kreasi dari knowledge dan/ atau sharing antara perusahaan dengan efek para managernya.

Ø Menurut Cascio (2002) efektivitas management dapat diukur melalui atraktifnya stock returns oleh investor. Sehingga downsizing merupakan improvement kinerja perusahaan yang direfleksikan di nilai pasarnya (Cascio, Young dan Morris, 1997).

Ø Pemberitaan downsizing merupakan sinyal di pasar tentang kondisi perusahaan saat ini dan ability-nya ke depan agar efektif berkompetisi di pasar.

Ø Ketika sinyal dalam pengurangan biaya, juga sinyal dalam pengurangan SDM adalah merupakan kehilangan nilai knowledge dan mengurangi ability untuk membuat dan menggabungkan knowledge maka downsizing akan memberikan banyak efek.

Ø Menurut Simon, Hitt dan Ireland, 2003; kehilangan SDM akan mengurangi kapabilitas sustain a competitive advantage.

Ø Efek dari downsizing pada return saham akan meningkatkan pertumbuhan negative, sehingga dikemukakan hipotesis sebagai berikut:

H1: Level downsizing mempunyai dampak efek negative pada nilai valuasi pasar perusahaan.

Ø Relokasi strategi merupakan keputusan spesifik tentang departemen mana yang akan di laid off (Ludwig, 1993) termasuk SDM-nya.

Ø Low reallocation bisa berarti mengurangi SDM sesuai dengan prosentase karyawan sedangkan pada high reallocation focus pada pengurangan target spesifik unit atau fungsinya.

Ø Pasar biasanya merespon lebih positif pada pengurangan spesifik karena asumsi bahwa target unit atau fungsi bernilai rendah ke perusahaan daripada yang lain atau perubahan lebih kecil dan tidak punya efek dalam kapabilitas penting perusahaan.

Ø Hipotesis dari argumen ini adalah:

Hypothesis 2a: Pemberitaan strategi downsizing pada high reallocation mempunyai efek positif pada valuasi nilai pasar perusahaan.

Hypothesis 2b: Pemberitaan strategi downsizing pada high reallocation mempunyai efek positif moderat pada hubungan antara level perusahaan yang downsizing dan valuasi nilai pasar perusahaan.

Ø Disengagement incentive dipergunakan untuk implementasi strategi dalam memfasilitasi inisiatif downsizing.

Ø Disengagement merupakan penawaran kepada pegawai untuk meninggalkan organisasi. Insentif yang diberikan termasuk pembayaran tunai, tunjangan hari tua dan pembayaran gaji dengan berbagai benefit (seperti misal asuransi kesehatan).

Ø Menurut Dalton, Daily dan Kesner, 1993; disengagement incentives merepresentasikan biaya yang dibebankan langsung kepada profit saat ini.

Ø Bowman dan Singh (1993) menemukan bahwa pensiun dini merupakan penawaran atraktif dari insentif dan jika kemudian SDM tersebut digantikan dengan yang baru dan muda akan mempunyai biaya lebih rendah meskipun kurang pengalaman.

Ø Penggunaan disengagement incentive menyebabkan reaksi pasar yang negatif (Worrell, Davidson dan Sharma, 1991).

Ø Penggunaan disengagement incentive diharapkan berdampak positif moderat pada hubungan antara level downsizing dan valuasi nilai pasar perusahaan.

Ø Penggunaan insentif juga menghasilkan sikap positif bagi yang survive (Brockner, 1990) karena menghindari rasa bersalah antar kolega yang kehilangan pekerjaan. Bagi yang survive dengan sikap positif akan lebih produktif setelah downsizing.

Ø Hipothesis yang diajukan adalah:

Hipothesis 3a: Pemberitaan disengagement incentives mempunyai efek negatif pada valuasi nilai pasar saham.

Hipothesis 3b: Pemberitaan disengagement incentives mempunyai efek positif moderat pada hubungan antara level perusahaan yang downsizing dengan nilai valuasi pasar perusahaan.

D. Metodologi Penelitian

1. Sampel Penelitian

· Perusahaan yang melakukan downsizing dan reaksi harga saham antara bulan Januari 1990 – Desember 1998.

· Terdapat 1995 pemberitaan downsizing di US yang diberitakan dalam wall street journal.

· Eliminasi dilakukan untuk perusahaan yang me-lay off 0,5% dari total karyawan.

· Pemberitaan dianalisis pada 5 hari kerja (sesuai rekomendasi Mc Williams dan Siegel, 1997)

· Ukuran sampel 364 pemberitaan yang diambil datanya dari SP Compustat databases dan CRSP database.

2. Dependent variable

· Adalah nilai valuasi pasar perusahaan yang beroperasional sebagai cumulative abnormal daily stock returns (CAR) yang diamati pada saat pemberitaan downsizing.

· Menurut studi Brown dan Warner, 1985 riset keuangan juga dilakukan dalam 3 hari yaitu hari sebelum, hari pemberitaan dan hari sesudahnya di Wallstreet journal (Mc Williams dan Siegel, 1997)

3. Independent variables

a. Level of downsizing

ü Prosentase pengurangan pegawai di perusahaan yang dimuat dalam wall street journal.

b. Reallocation level

ü Menggunakan variabel binair (0/1), pemberitaan downsizing merupakan sinyal pada strategi low reallocation (broad based, across the board) diberi kode : 0 sedangkan pemberitaan yang memberi sinyal high reallocation strategi (lebih target atau spesifik) diberi kode: 1.

ü Derajad reliabilitasnya adalah 0,9

c. Disengagement Incentives

ü Diberi kode 1 apabila disengagement incentive dan lainnya adalah 0.

ü Derajad reliabilitasnya adalah 0,97

ü Untuk menjamin data lebih akurat dipergunakan beberapa koran harian atau upaya pemberitaan bisnis secara periodik dalam publikasi bisnis.

4. Control Variables

· Beberapa alternatif lain juga dikontrol seperti kinerja perusahaan melalui harga saham, total assets (skala), efisiensi (average sales/ employee), human asset intensity (Coff, 1999), perubahan dalam level diversifikasi misal pada CEO-nya dalam 6 bulan sejak pemberitaan downsizing.

· Kode variabel pada perubahan CEO diberi kode 1 dan yang lain 0.

· Yang terakhir adalah variabel trend yaitu tahun 1990 (+1) ke tahun 1998 (+9) termasuk kontrol kemungkinan initation/ band wagon effects diantara perusahaan.

E. Hasil Penelitian

Ø Dengan menggunakan GLS regression hasilnya adalah kinerja perusahaan dan perubahan pada level diversifikasi adalah signifikan yang berarti perusahaan berkinerja lebih baik dengan pengurangan didalam diversifikasi lebih menguntungkan responnya.

Ø Pada hasil hipotesis 1 dalam model 2a dn 2b koefisien dari Level of Downsizing (LD) adalah negatif dan secara statistik signifikan sehingga terdapat hubungan antara CAR (Market Valuation) dan level downsizing, dan aksi downsizing mempunyai efek negatif.

Ø Pada hipotesis 2a, dari model 3a termasuk variabel Reallocation Level (RL) koefisiennya adalah positif dan secara statistik signifikan, menunjukkan bahwa ketika perusahaan menerapkan high reallocation strategy, respon pasar lebih menguntungkan daripada ketika menerapkan low reallocation strategi. Sehingga hipotesis 2a diterima.

Ø Pada model 3b terdapat dua interaksi yang menunjukkan interaksi positif dan signifikan konsisten dengan prediksinya. Ketika koefisien interaksi tidak signifikan (p <>

Ø Model 4a dan 4b tentang efek moderat menggunakan Disengagement Incentives. Pada model 4a efek utamanya tidak signifikan sehingga interaksinya positif dan signifikan secara statistic (model 4b). X2 berbeda secara statistic signifikan (p < style="">disengagement incentives. Sehingga hipotesis 3a diterima tetapi hasilnya mendukung hipotesis 3b.

Ø Plotting dari hubungan moderat menggunakan reallocation strategy atau tanpa menggunakan disengagement incentives, CARs meningkat lurus dengan jumlah kecil dari downsizing tetapi menjadi negatif pada saat tingkat suku bunga lebih besar dari downsizing. Sehingga ketika reallocation strategies dipergunakan, CAR positif dan dilevel relatif (naik pada saat rata-ratanya turun) dengan level lebih tinggi dari downsizing. Dan ketika disengagement incentives dipergunakan dalam implementasi downsizing, CAR’s positif dan naik pada saat kenaikan rata-rata.

Ø Akhirnya, dalam model 5 menyatakan hasilnya adalah robust. Dengan semua variabel dimasukkan kedalam model, semua koefisien yang secara statistik signifikan pada model-model awal adalah signifikan secara statistik dalam model secara keseluruhan.

F. Kesimpulan

Ø Hasil penelitian menunjukkan bahwa resource based adalah determinan yang sangat kritis dari kinerja perusahaan.

Ø Riset menunjukkan pentingnya nilai SDM dalam downsizing yang bisa berpengaruh negative pada pasar modal.

Ø Hasil riset memberikan kontrol terhadap potensialnya outcome hasil kinerja, level dan perubahan di perusahaan yang mengalami diversifikasi, efisiensi, perubahan CEO dan intensitas asset SDM dalam operasional perusahaan.

Ø Pada saat keputusan downsizing dilakukan untuk mengurangi biaya, pasar juga bereaksi negatif karena concern terhadap nilai-nilai SDM yang mempengaruhi kenaikan benefit dari rendahnya biaya.

Ø Hasilnya menunjukkan bahwa untuk mengurangi efek negatif dari downsizing harus dilakukan implementasi strategi yang tepat.

Ø Hal yang penting adalah relokasi strategis merupakan hal yang spesifik untuk mereduksi biaya.

Ø Unit dan fungsi merupakan target reduksi biaya dengan tetap memelihara kapabilitasnya dan meneruskan penggabungan knowledge-nya agar tetap mempunyai competitive advantage.

Ø Plotting terhadap efek moderate dari implementasi strategi menunjukkan efek negatif dari downsizing dalam valuasi pasar akan menjadi positif apabila masing-masing strategi dipergunakan dengan tepat.

G. Implikasi Studi

Ø Implikasi penelitian ini bagi investor adalah dapat mengetahui aksi downsizing yang dilakukan untuk memecahkan masalah perusahaan

Ø Downsizing tidak digunakan untuk mengurangi biaya pokok tetapi untuk membuat rencana yang lebih efektif dalam implementasi strategis terhadap downsizing tersebut.

H. Critical Review

Ø Penelitian ini tidak secara spesifik mengkaji tentang sumber daya yang bernilai dan kapabilitas inti perusahaan untuk memelihara competitive advantage.

Ø Dalam penelitian selanjutnya disarankan bahwa untuk melangkah melakukan downsizing, tetap diupayakan hasil/ outcome kinerja yang positif terhadap keputusan strategis tersebut dan peneliti perlu mengungkapkan hal-hal tersebut secara lebih terperinci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar