Senin, 01 Maret 2010

Peran Investasi Dalam Kinerja Sektor Pertanian Indonesia

Peran Investasi Dalam
Kinerja Sektor Pertanian Indonesia

Oleh:
Darsono
Jurnal Agribisnis & Industri Pertanian, Vol. 7 No. 3, Oktober 2008, hal. 262 – 273




Oleh:
Y. Sri Susilo
Ruddy Tri Santosa
Surifah
Santi Budiman
PDIE Fakultas Ekonomi UNS




Investasi salah faktor pendorong pertumbuhan ekonomi (ILGH)

lPeriode pascakrisis: investasi sektor pertanian 5% dari total PMDN dan hanya 4,6% dari total PMA (1998 – 2002)

lLaju investasi sektor pertanian (pemerintah & swasta) menurun rata-rata -2,07% (periode 1990-an s/d 2000-an)

lTingkat pertumbuhan investasi pertanian tidak optimal jika investasi di sektor ini undercapasity.

lBagaimana peran investasi sektor pertanian dalam mendorong sektor pertanian di Indonesia

lPertanian (tanaman pangan, hortikultura, perikanan, peternakan, dan kehutanan)

lAlat analisis simulasi Model CGE

lThe Arrow-Debreu Economy (1954): (1) sektor RT/konsumen, (2) produsen/perusahaan, dan (3) pemerintah.(Ingat circular flow of diagram!)



A. Rumah Tangga:

lKonsumen (pasar output) & pemilik faktor produksi (pasar input)

lMemaksimumkan fungsi utilitas (IC) dengan kendala anggaran yang dimiliki (BL)

lAggregat demand



B. Perusahaan:

lProdusen (pasar barang), “konsumen” (pasar input/faktor produksi)

lPasar input: perusahaan dipasok dari RT (tenaga kerja, tanah dsb) & perusahaan lain (intermediate goods)

lPerusahaan memaksimumkan laba

l Aggregate supply


C. Keseimbangan:

lPermintaan (AD) dan penawaran (AS) dalam kondisi keseimbangan

lAnalisis keseimbangan umum (general equilibrium) adalah analisis yang mempelajari bagaimana kondisi penawaran (supply) dan permintaan (demand) berinteraksi dalam berbagai pasar secara simultan.

lLeon Walras (1951): bahwa pada suatu saat akan terdapat sebuah vektor harga-harga yang dapat menyeimbangkan tingkat permintaan dan penawaran di tiap pasar komoditas

lTingkat harga keseimbangan (equilibrium) ini dapat dicapai melalui proses tatonnement. Proses ini bekerja seperti seorang auctioneer yang akan menurunkan harga pada pasar yang mengalami excess supply dan menaikkan harga pada pasar yang mengalami excess demand, sampai terjadi harga keseimbangan.

lArrow dan Debreu (1954) mensyaratkan adanya keseimbangan umum, apabila perekonomian dalam keadaan kompetitif sempurna, dimana tidak terdapat indivisibilities dan tidak terdapat skala pengembalian yang meningkat (increasing returns to scale). Jadi dalam perekonomian yang tidak kompetitif sempurna, titik keseimbangan umum dapat ada dapat juga tidak ada.

lPara ekonom yang sejalan dengan pemikiran Walras (Walrasian), telah mengembangkan model keseimbangan umum terapan (Applied Computable General Equilibrium Model / ACGE) yang dapat menggambarkan perubahan dari kondisi keseimbangan mula-mula ke keseimbangan baru jika terdapat adanya external shock.

lDalam model CGE, seluruh sektor perekonomian diasumsikan endogen dan dalam kondisi keseimbangan. Beberapa pelaku di pasar secara langsung menyeimbangkan anggaran mereka.

lProdusen menjual seluruh produksinya, faktor produksi mendistribusikan pendapatan mereka, perusahaan dan rumah tangga membelanjakan pendapatannya, dan investasi ditentukan oleh tersedianya tabungan.

lAnggaran pemerintah dalam keadaan berimbang, sehingga tabungan yang berasal dari surplus atau hutang karena defisit keduanya dapat dihitung. Tetapi perilaku mereka tidak terlepas dari mekanisme pasar yang diasumsikan tidak terdistorsi.

lPada masing-masing pasar, dalam model CGE, penentuan harga dilakukan secara endogen dan fleksibel, yang artinya harga keseimbangan ditentukan berdasarkan mekanisme penawaran dan permintaan.

Harga yang terjadi bersifat harga relatif (bukan nominal) yang mencerminkan harga konsumen agregat dan seragam (homogen) di seluruh transaksi dalam pasar bersangkutan.



A.A. Model CGE

lModel CGE Wayang merupakan adaptasi dari Model Indonesia ORANI-G yag dikembangkan oleh Horridge et al. (Glyn, 2002).

lBasis data IO

lDioperasikan dengan software Gempack


B. Metode Analisis & Simulasi Kebijakan

lFilosofi dalam model keseimbangan umum terapan yang berbunyi “the data is solution”.

lData yang digunakan dalam model mencerminkan kondisi keseimbangan awal dari suatu perekonomian. Dengan mempelajari kondisi keseimbangan awal, perbedaan dampak yang diterima di masing-masing sektor karena adanya external shock tertentu, dapat dijelaskan.

lModel CGE didesain untuk melakukan simulasi secara statis-komparatif. Persamaan dan variabel-variabelnya diinterpretasikan secara implisit terhadap dimensi waktu yang akan datang.

lSkenario simulasi perlu digunakan untuk menghindari berbagai kesalahan penetapan skenario, karena dengan menggunakan model CGE, besaran yang dihasilkan sangat tergantung dan peka terhadap besarnya shock yang ditetapkan sebagai skenario simulasi.

lSimulasi:
1) Penurunan investasi di sektor pertanian sebesar 2,07%
2) Peningkatan investasi di sektor pertanian
sebesar 1,26%.



Hasil & Pembahasan

A.A. Kinerja Investasi Sektor Pertanian

lPeriode 1990-an s/d 2000-an laju investasi menurun -2,07%. Hal ini disebabkan investasi di sektor pertanian resiko & ketidakpastiannya tinggi (cuaca, hama, penyakit, mudah rusah, rate of returns lama dsb).

B. Kinerja Pertumbuhan

lKontribusi thd PDB (1965 = 57,1%), periode 2000-an 15,6% & tahun 2006 sebesar 13,3%.

lKontribusi penyerapan tenaga kerja 64,2% tahun 1971, turun menjadi 43,8% tahun 2002.

lKinerja ekspor produk2 pertanian fluktuatif


C. Hasil Simulasi

lHasil simulasi model KUT dapat digunakan untuk mengetahui how much gain and how much pain dalam sektoral / perekonomian sebagai dampak terjadinya perubahan atau kebijakan baru.

lDilihat tanda (+/-) & besaran (magnitude).

lBerdasarkan Tabel 1 s/d Tabel 5, diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan investasi di sektor pertanian :
(1) kurang bisa menggerakkan pertumbuhan di subsektor tanaman pangan, terutama disebabkan belum bisa menciptakan augmenting industri pada subsektor tanaman pangan

(2) Bisa menggerakkan pertumbuhan industri hortikultura cukup besar

(3) Peningkatan laju investasi pada subsektor peternakan terkendala oleh laju peningkatan harga-harga input yang jauh lebih besar, sehingga peningkatan output, lapangan kerja, & promosi di pasar internasional terkendala.

(4) Peningkatan investasi di subsektor perikanan mendorong substitusi terjadinya substitusi faktor input barang impor, & cenderung cepat menjadi padat modal, sehingga menurunkan lapangan kerja, upah tenaga kerja, & produktivitas.

(5) Peningkatan laju investasi di subsektor kehutanan berdampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja & output yang diproduksi.



Komentar & Catatan

lHasil simulasi telah dijelaskan dengan economically meaningful” dengan baik.

lPenjelasan Model CGE belum memadai (keterbatasan halaman?)

lCatatan berikut (mungkin) dapat menambah penjelasan mengenai Model CGE

lPendekatan CGE dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan model menerangkan permasalahan yang berciri cakupan luas (broad spectrum). Pendekatan CGE dapat menjelaskan dampak suatu perubahan atau kebijakan secara komprehensif.

lHasil perhitungan model CGE dapat digunakan untuk mengetahui how much gain and how much pain dalam perekonomian sebagai dampak terjadinya perubahan atau kebijakan baru.

lModel CGE juga menjadi alat analisis yang umum digunakan (a popular tool) untuk analisis isyu yang berkaitan dengan efek kebijakan harga di sektor pertanian dan liberalisasi perdagangan.

lFokus dari penelitian tersebut bervariasi antar negara dan agregasi produk. Model CGE memberikan perlakuan yang baik (a sophisticated treatment) pada struktur ekonomi dari kelompok negara-negara dengan karakteristik yang sama.

lModel CGE satu negara mampu menangkap berbagai efek dari kebijakan makroekonomi dan kebijakan harga pertanian dalam suatu negara dengan struktur ekonomi dan kebijakan yang berbeda.



lKlasifikasi Model CGE:

(1)1) Single Country: Model CGE Lewis, Model CGE Orani (Wayang, Indorani dsb)

(2)2) Multi Country: Model CGE Multiregional GTAP (Global Trade Analysis Project).



lKeterbatasan Model CGE:

(1) Model KUT yang digunakan dalam penelitian ini adalah statik, menggambarkan keseimbangan tunggal di mana variabel-variabelnya tidak memasukkan variabel kelambanan waktu (time lag) maupun variabel harapan di masa mendatang. Penentuan keseimbangan didasarkan pada tanda-tanda untuk periode yang sedang berjalan, berdasarkan pada kondisi awal dan keadaan lampau yang tertangkap pada set tahun dasar.

(2) Model CGE yang digunakan tidak secara eksplisit memasukkan pasar finansial dalam persamaannya.

(3) Parameter-parameter CGE tidak seluruhnya diestimasi secara ekonometrik. Pada dasarnya model CGE seharusnya menggunakan estimasi empirik apabila memungkinkan, terutama untuk parameter-parameter kunci, sehingga tes statistik dapat diterapkan pada pilihan spesifikasi model.

(4) Model KUT terlalu kompleks dan memerlukan banyak data. Sesungguhnya model KUT berusaha menangkap fungsi dari ekonomi pasar (dengan banyak faktor) dan diperlukan untuk memperlihatkan bagaimana suatu kebijakan bekerja di sektor riil. Dengan model CGE, maka harus tersedia data Input-Output (I-O). Untuk model CGE yang berbasis data SAM (Social Accounting Matrix) maka juga harus tersedia data tersebut.

lAsumsi Model CGE
(1) Perilaku para konsumen dianggap dapat melakukan penyesuaian untuk mengoptimalkan fungsi tujuannya yang dalam model INDORANI menggunakan pendekatan Klein-Rubin utility function.

(2) Tidak ada distorsi harga di pasar komoditas atau pasar dalam kondisi persaingan sempurna.

(3) Harga dasar komoditas berdasarkan kondisi zero profit di tingkat produsen.

(4) Elastisitas substitusi antara produk domestik dan impor sama dengan 1 (Armington’s Elasticity).







Daftar Pustaka

lPAU Studi Ekonomi UGM, (1998), Dokumentasi INDORANI 9571, Yogyakarta. (tidak dipublikasikan).

lPAU Studi Ekonomi UGM dan Bappenas, (1998), Data Dasar INDORANI Regional, Yogyakarta. (tidak dipublikasikan).

lRatnawati, A., (1996), “Kebijakan Penurunan Tarif Impor dan Pajak Ekspor, Kinerja Perekonomian, Sektor Pertanian dan Distribusi Pendapatan di Indonesia”, Ringkasan Disertasi, Program Pascasarjana IPB, Bogor. (tidak dipublikasikan)

lSri Susilo, Y., (1999), “Konsekuensi Ekonomi Penurunan Subsidi BBM: Pendekatan Model KUT Indorani”, Tesis, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta. (tidak dipublikasikan)



Matur Nuwun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar