Selasa, 25 Mei 2010

TEORI TENTANG STRATEGI GLOBAL DAN EFISIENSI PERUSAHAAN : MEMPERTIMBANGKAN EFEK KERAGAMAN BUDAYA

TEORI TENTANG STRATEGI GLOBAL DAN EFISIENSI PERUSAHAAN : MEMPERTIMBANGKAN EFEK KERAGAMAN BUDAYA


Oleh :

Leslie E. Palicin

Luis R. Gomez-Mejia




Direview Oleh:

Ruddy Tri Santoso

NIM: T4209012

Program Doktor Ilmu Ekonomi

Universitas Negeri Sebelas Maret

Surakarta

2010

A. Tujuan Makalah

Memaparkan bagaimana perusahaan multinasional yang bergerak di negara-negara yang secara kultur berhubungan akan mendapat keuntungan lebih daripada perusahaan multinasional yang bergerak di negara-negara yang beragam budayanya.

B. Teori

Ekspansi secara internasional menuntut perusahaan untuk beradaptasi pada perbedaan-perbedaan budaya antar Negara. Perspektif yang popular selama ini menganggap bahwa beroperasi di daerah-daerah yang beragam akan menguntungkan. Paper ini akan meninjau dari sudut pandang yang lain bagaimana beroperasi dinegara-negara yang budayanya ‘related’ dapat lebih menguntungkan perusahaan karena dapat beroperasi secara lebih efisien.

C. Batasan Istilah penting :

Relatedness ( Rumelt, 1974:29) : Bilamana ketrampilan umum, sumber daya, pasar, atau tujuan dapat diaplikasikan secara sama pada unit-unit tersebut. Dengan demikian maksud berelasi dalam paper ini adalah dimana satu atau lebih unit usaha dapat mengakses sumber daya yang sama dalam perusahaan.

Kultur (Hofstede, 1980) : Kultur mempunyai 4 dimensi

  1. Power distance : Penerimaan umum dimana memang ada penyebaran kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat
  2. Uncertainty avoidance : menunjukkan penolakan terhadap ketidak-pastian dan resiko
  3. Individualism-collectivism : individualisme mengimplikasikan framework social yang longgar dimana orang hanya memperhatikan diri sendiri dan keluarga dekat saja. Sementara kolektivisme ditandai dengan framework social yang erat dimana orang dibedakan oleh ‘dalam group’ dan ‘diluar group’
  4. Masculinity-feminity : Masyarakat maskulin menghargai sikap agresif dan kepemilikan materi, sementara masyarakat faminin menghargai kepedulian terhadap sesama dan kualitas hidup.

D. Pembahasan

Keuntungan dari budaya yang berelasi muncul dari beberapa fungsi ( lihat gambar 1) yaitu :

1 Direct benefits yang terdiri dari

a. Market related efficiencies

b. Production related efficiencies

c. Technology related efficiencies

2 Indirect benefits

a. Shared managerial cognitions

b. Efficient strategy formulations

c. Efficient strategy implementation

d. Efficient strategy control

1.a. Market-related efficiencies

Semakin besar perbedaan, semakin penting mengadaptasi marketing mix karena pilihan pelanggan semakin beragam. Contohnya dalam hal iklan, perbedaan budaya yang tidak terlalu besar membuat perusahaan dapat menggunakan iklan yang sama di Amerika dan Kanada. Sebaliknya iklan tersebut belum tentu bisa digunakan di Indonesia karena adanya perbedaan bahasa, mindset, nilai-nilai, atau reaksi pasar. Dengan demikian biaya iklan di Negara dengan kesamaan kultur akan lebih murah karena dapat menggunakan konsep periklanan yang sama.

Demikian juga Negara yang tingkat penolakannya terhadap resiko tinggi seperti di Jepang menginginkan produk yang kualitasnya bagus sementara tingkat toleransi terhadap resiko pelanggan di Amerika membuat mereka tidak terlalu mementingkan produk yang berkualitas tinggi. Hal ini menunjukkan akan lebih mudah menjual barang yang sama di negara yang tingkat penolakannya terhadap resiko sama.

Dengan beroperasi di Negara-negara yang secara kultur mirip perusahaan multinasional dapat mengambil keuntungan-keuntungan lain dari efisiensi yang berhubungan dengan pasar. Strategi ini akan mengurangi biaya riset pasar, biaya overhead marketing, dan tentu saja menimbulkan skala ekonomis.

Maka :

P1 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip akan memperoleh efisiensi yang berhubungan dengan pasar yang lebih besar daripada perusahaan global yang beroperasi di Negara-negara yang secara kultur sangat berbeda.

1.b. Efisiensi yang berhubungan dengan produksi

Standardisasi produk dimungkinkan jika beroperasi di Negara-negara yang kulturnya mirip. Karena kultur mempengaruhi kegemaran pelanggan, orang-orang dari kultur yang sama akan memilih barang yang sama. Dengan demikian juga akan menciptakan skala ekonomis dalam produksi, dan memampukan peningkatan spesialisasi mesin.

Keuntungan lain adalah penggabungan aktifitas yang berhubungan dengan supplier, biaya handling input dapat ditekan, dengan demikian memungkinkan bagi perusahaan untuk berinvestasi di tehnologi yang lebih baik. Modifikasi produk juga akan lebih sedikit jika dibandingkan pembuatan barang untuk Negara yang kulturnya berbeda jauh. Pada akhirnya semua efisiensi ini akan menghasilkan biaya yang lebih rendah dan meningkatkan kualitas produk .

Maka :

P2 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip akan memperoleh efisiensi produksi yang lebih besar daripada perusahaan global yang beroperasi di Negara-negara yang secara kultur sangat berbeda.

1.c. Efisiensi yang berhubungan dengan tehnologi

Para periset sudah lama menyadari bahwa tehnologi sangat penting untuk mencapai global competitiveness, sehingga harus dikoordinasikan secara efektif antar divisi-divisi global. Antar Negara-negara yang valuenya sama, transfer tehnologi lebih mudah.

Keuntungan potensial yang muncul dengan mudahnya tehnologi transfer adalah :

· Efek learning curve lebih besar

· Memampukan perusahaan menggunakan orang-orang yang lebih kreatif sehingga meningkatkan inovasi produk atau design process

· Dengan mengkondolidasikan fungsi R&D perusahaan dapat menggunakan tehnologi baru secara lebih awal di beberapa unit bisnis.

Maka :

P3 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip akan memperoleh efisiensi yang berhubungan dengan tehnologi yang lebih besar daripada perusahaan global yang beroperasi di Negara-negara yang secara kultur sangat berbeda.

2.a. Kesamaan kultur dan sharing pengetahuan manajerial

Kultur mempengaruhi persepsi individual sehingga orang-orang dengan kultur yang sama cenderung merespon dengan cara yang sama. Dengan demikian kesamaan kultur dalam staff strategis global akan mengurangi ketidak akuran dan membantu koordinasi internasional. Selain itu kesamaan kultur juga akan menguntungkan dalam hal transfer keahlian dan menimbulkan efek learning curve yang lebih baik.

Maka :

P4 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip dapat berbagi pengetahuan manajerial secara lebih baik daripada perusahaan global yang beroperasi di Negara-negara yang secara kultur sangat berbeda.

2.b. Kesamaan kultur dan sharing Framework manajemen strategis

1. Formulasi strategi

Strategi diformulasikan oleh manajer-manajer yang bergantung pada skema pribadi atau pandangan mereka tentang realita social. Ketidak samaan kultur akan berefek negatif karena logika pada unit-unit yang berbeda kemudian cenderung tidak sinkron. Dengan demikian, kultur yang tidak kongruen akan membawa logika yang tumpang tindih antar manajer strategis dalam perusahaan multi nasional. Timbul kesulitan dalam komunikasi dan consensus antara pengambil keputusan strategis.

Maka :

P5 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip dapat memformulasikan strategi secara lebih efisien daripada perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur sangat berbeda

2. Implementasi strategi

Implementasi strategi juga sangat dipengaruhi oleh kultur. Sebagai contoh tingkat hirarkis pengambilan keputusan akan sangat berbeda pada kultur low power distance dibandingkan dengan high power distance. Pada high power distance pengaturan pengambilan keputusan akan berlapis-lapis.

Perbedaan kultur juga akan mempengaruhi evaluasi performance, system reward, prosedur jenjang karir, dll. Pengembangan system human resources pada perusahaan yang kulturnya tidak sama kemungkinan besar akan memerlukan biaya lebih besar dan juga menghadapi lebih banyak hambatan.

Maka :

P6 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip dapat mengimplementasikan strategi secara lebih efisien daripada perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur sangat berbeda

3. Kontrol strategi

System control adalah tahap akhir dari proses manajemen strategis. Tingkat control strategis yang diterapkan oleh perusahaan dipengaruhi oleh cara pandang manjemen. Sebagai contoh manajer di negara-negara yang menghindari resiko akan menggunakan system informasi yang kompleks untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Tinggi rendahnya power distance juga sangat berpengaruh pada system control.

Dengan banyak perbedaan ini transaction cost di perusahaan yang beroperasi pada beragam kultur akan lebih tinggi karena kontrolnya juga lebih sulit sementara beroperasi di kultur yang mirip akan lebih mudah untuk diatur dan di mengerti oleh manjemen pusat.

Maka :

P7 : Secara keseluruhan perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur mirip dapat mengembangkan system control strategis secara lebih efisien daripada perusahaan global yang beroperasi di negara-negara yang secara kultur sangat berbeda

E. Diskusi dan kesimpulan

Memang dengan berkembang diluar home country akan memberikan beberapa keuntungan bagi perusahaan, (contohnya dengan mendapat pasar yang lebih luas, biaya tenaga kerja lebih murah, biaya bahan baku lebih rendah, dll). Namun, ceteris paribus, perusahaan yang bergerak di daerah yang kulturnya kurang lebih sama akan mendapat keuntungan dari sinergi secara kultur. Yaitu dengan kemudahan mengatur mengalirnya aktifitas dan pengetahuan antar unit sehingga akan memaksimalkan efisiensi perusahaan. Beroperasi di negara yang secara kultur berbeda membutuhkan pengetahuan tentang kultur setempat agar tidak berakibat pada ‘cultural ignorance’, sebaliknya dengan bersikap sensitive terhadap keberbedaan kultur akan menimbulkan sinergi kultur. Adler (1980;172) menyatakan “organisasi yang secara kultur sinergis membentuk kultur baru dalam manjemen dan organisasi yang melampaui kultur individual para anggotanya” walaupun pernyataan ini terdengar ideal, pada kenyataannya kondisi ini tidak bisa dicapai. Walaupun didukung banyak pihak, data empiris yang membuktikan kebenarannya sedikit. Bahkan beberapa riset melaporkan bahwa keberbedaan baik kultur maupun demografis berefek negatif terhadap performance. Lebih jauh lagi, riset empiris menunjukkan bahwa ada korelasi kuat yang searah antara keberbedaan dan turnover. Benefit dari keragaman kultur akan dioffset oleh hambatan manajerial yang muncul dari kegiatan para eksekutif internationalnya.

Sesuai dengan Morrisson et al. (1991) paper ini mengamati bahwa tantangan sebenarnya bagi MNE adalah bagaimana dapat berekspansi secara regional daripada secara global. Dengan demikian lebih mudah untuk menyeimbangkan kebutuhan skala ekonomis dan distribusi dengan masalah manjerial dan penjualan diluar Negara asal. Ekspansi regional mendorong benefit beroperasi secara internasional tanpa mengalami hambatan kultur.

Sebagai catatan penting, perlu digarisbawahi bahwa keragaman budaya tidak terjadi dalam konteks domestic. Sebagai contoh keragaman kultur dalam United States dapat memberikan keuntungan organisasional jika di atur dengan baik. Namun keragaman disini adalah keragaman yang didasari beberapa kesamaan misalnya kesamaan sistem legal, norma institusi, bahasa, dll. Dengan demikian organisasi tersebut dapat memanfaatkan potensi keragaman domestik tanpa terhambat koordinasi multinasional.


F. Implikasi Riset

Riset selanjutnya perlu menganalisa secara empiris relasi antara keragaman cultural dengan variable-variabel yang mungkin mempengaruhi performance perusahaan.

G. Kesimpulan

Dengan mengenali proses organisasi yang muncul karena adanya keragaman, perusahaan dimungkinkan untuk menghindari konsekwensi negatif yang dibicarakan dalam paper ini. Riset-riset sebelumnya menyediakan bahan pembelajaran bagaimana menghindari disfungsi karena perbedaan. Riset yang akan datang tentang pembelajaran cultural akan meluaskan pengetahuan kita tentang relasi kritis antara keragaman kultur dengan efisiensi perusahaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar